Asri Hadi: Selamat kepada Dadang Rachmat, Raih Penghargaan Tokoh Pers Tangguh
Jakarta — Kilometer78.Net.
Jakarta 4 September 2026 ] Ketua Dewan Pakar Asosiasi Media Konvergensi Indonesia (AMKI) Pusat, Drs. Asri Hadi, M.A., menyampaikan ucapan selamat kepada Pimpinan Redaksi MITRAPOL sekaligus Ketua Umum AMKI, Dadang Rachmat, S.H., yang menerima penghargaan Tokoh Pers Tangguh.
Penghargaan tersebut diberikan dalam acara puncak HUT ke-11 Media Sudut Pandang yang berlangsung di Hotel Luminor Pecenongan, Jakarta Pusat, Kamis (3/9/2026).
Dadang Rachmat dinilai konsisten menjalankan profesi jurnalistik sekaligus menjaga keberlangsungan media di tengah perubahan industri pers yang berlangsung cepat.
Asri Hadi mengatakan penghargaan tersebut layak menjadi momentum untuk mengapresiasi konsistensi insan pers dalam menjaga profesionalisme dan kepercayaan publik.
“Selamat kepada Saudara Dadang Rachmat atas penghargaan Tokoh Pers Tangguh. Penghargaan ini bukan hanya bentuk apresiasi atas perjalanan dan konsistensi dalam menjalankan profesi jurnalistik, tetapi juga menjadi pengingat bahwa kerja pers membutuhkan ketekunan, integritas, keberanian dan tanggung jawab kepada publik,” ujar Asri Hadi.
Ia berharap penghargaan tersebut menjadi motivasi bagi Dadang Rachmat untuk terus menjaga kualitas jurnalistik serta mendorong kemajuan industri media yang profesional dan berkelanjutan.
“Semoga penghargaan ini menjadi energi positif untuk terus berkarya, memperkuat profesionalisme, menjaga independensi, dan memberikan kontribusi bagi perkembangan pers Indonesia. Tantangan media ke depan semakin besar, sehingga kepercayaan publik harus tetap menjadi fondasi utama,” katanya.
Menurut Asri Hadi, tema,“11 Tahun Merawat Kepercayaan” yang diusung dalam HUT Media Sudut Pandang memiliki makna penting bagi perjalanan industri pers.
Menurutnya, usia sebuah media tidak semata-mata diukur dari berapa lama media tersebut hadir dan menerbitkan berita, tetapi juga dari seberapa jauh kepercayaan pembaca dapat dipertahankan.
“Media bisa bertahan bukan hanya karena mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi karena mampu mempertahankan kepercayaan pembacanya. Kepercayaan itu dibangun melalui konsistensi dan tanggung jawab dalam setiap pemberitaan,” tuturnya.
Asri Hadi melihat tantangan tersebut semakin besar di tengah kompetisi media digital. Arus informasi bergerak semakin cepat, sementara perhatian publik semakin mudah berpindah dari satu isu ke isu lainnya.
Kecepatan, menurutnya, memang menjadi bagian penting dalam kerja media digital. Namun, kecepatan tidak boleh mengorbankan akurasi dan prinsip jurnalistik.
“Judul boleh singkat, berita boleh cepat, tetapi proses jurnalistik tidak boleh kehilangan ketelitian. Fakta harus diperiksa, informasi harus diverifikasi dan pihak-pihak yang berkepentingan harus mendapatkan ruang yang berimbang,” ujarnya.
Asri Hadi menilai media yang ingin bertahan dalam jangka panjang harus memiliki fondasi yang lebih kuat daripada sekadar mengejar jumlah pembaca atau kecepatan mendapatkan informasi.
Menurutnya, keberanian untuk melakukan verifikasi, menjaga keberimbangan, serta menyampaikan informasi secara bertanggung jawab merupakan bagian penting dalam membangun kredibilitas media.
Dalam ruang publik yang semakin mudah terpolarisasi, lanjutnya, pers juga memiliki tanggung jawab untuk tidak memperbesar kegaduhan melalui informasi yang belum terverifikasi.
“Jurnalistik bukan sekadar siapa yang paling cepat memberitakan, tetapi siapa yang mampu memberikan informasi yang benar, berimbang dan bermanfaat bagi masyarakat. Kesantunan dan tanggung jawab dalam jurnalistik justru menjadi kekuatan ketika ruang publik dipenuhi informasi yang saling berhadapan,” kata Asri Hadi.
Ia menambahkan, media memiliki posisi strategis sebagai jembatan informasi antara masyarakat, pemerintah, dunia usaha, dan berbagai ke-lompok kepentingan.
Karena itu, pers harus tetap menjaga independensi sekaligus menjalankan fungsi kontrol sosial secara profesional.
Asri Hadi mengatakan perubahan teknologi juga membawa konsekuensi terhadap cara media bekerja. Konvergensi antara media cetak, daring, elektronik, dan multimedia membuat perusahaan pers dituntut beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip jurnalistik.
Menurutnya, transformasi digital seharusnya tidak hanya dipahami sebagai perubahan platform, tetapi juga sebagai perubahan cara media membangun hubungan dengan publik.
“Teknologi terus berubah, tetapi prinsip dasar jurnalistik tidak boleh ikut berubah. Akurasi, verifikasi, keberimbangan, independensi dan tanggung jawab kepada publik tetap menjadi fondasi,” katanya.
Dalam konteks tersebut, penghargaan kepada Dadang Rachmat dinilai dapat menjadi pengingat bahwa keberlangsungan sebuah media sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga profesionalisme di tengah perubahan zaman.
Perayaan HUT ke-11 Media Sudut Pandang, menurut Asri Hadi, bukan hanya momentum bertambahnya usia sebuah media, tetapi juga kesempatan untuk merefleksikan kembali posisi pers dalam kehidupan masyarakat.
Pers, katanya, memiliki pekerjaan yang lebih besar daripada sekadar menyampaikan informasi. Media juga berperan membantu publik memahami persoalan secara lebih utuh dan menjadi jembatan dalam membangun ruang dialog.
“Pers harus tetap menjadi jembatan bagi publik. Ketika masyarakat mendapatkan informasi yang akurat dan berimbang, media ikut membantu menciptakan ruang publik yang lebih sehat,” ujarnya.
Asri Hadi berharap insan pers Indonesia terus meningkatkan kualitas dan profesionalisme di tengah tantangan industri media yang semakin kompleks.
Ia menilai kepercayaan publik merupakan aset utama yang membutuhkan waktu panjang untuk dibangun, tetapi dapat hilang apabila media mengabaikan akurasi, keberimbangan dan integritas.
Bagi AMKI, kata Asri Hadi, perkembangan industri media harus berjalan seiring dengan penguatan profesionalisme dan tata kelola perusahaan pers.
“Media yang sehat membutuhkan ekosistem yang sehat. Karena itu, profesionalisme perusahaan pers, kualitas jurnalistik dan kepercayaan publik harus berjalan bersama,” pungkasnya.

Posting Komentar