Tangis Pecah di MIN 2 Serang, 99 Siswa Bersimpuh di Kaki Orang Tua Jelang Ujian
![]() |
| Orangtua kelas VI MIN 2 Serang |
Serang (29/4) – Suasana haru tak terbendung di lingkungan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Serang. Tangis pecah, pelukan hangat mengalir, dan kata “maaf” jadi momen paling jujur dalam kegiatan Pesantren Sabtu Ahad (PETUAH) yang digelar pada 25–26 April 2026.
Bukan sekadar kegiatan biasa, PETUAH jadi ruang “reset hati” bagi 99 siswa kelas VI sebelum menghadapi ujian madrasah. Tapi yang bikin suasana benar-benar menyentuh adalah sesi penutup: praktek Birrul Walidain.
Di momen itu, satu per satu siswa bersimpuh di kaki orang tua mereka. Dengan suara bergetar, mereka meminta maaf, memohon doa, dan berharap ridho untuk menghadapi ujian. Aula mendadak hening, lalu berubah jadi lautan air mata—orang tua dan anak larut dalam pelukan penuh makna.
Ketua Pelaksana PETUAH, Asep Nazarudin, mengingatkan bahwa luka batin anak kadang datang dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele.
“Kadang tanpa sadar, anak membawa ‘label’ dari kata-kata orang tua. Itu bisa menetap di hati mereka. Makanya, hari ini kita ingin semuanya saling memaafkan, saling mendoakan, supaya anak-anak kita benar-benar siap, bukan cuma secara akademik, tapi juga batin,” tegasnya.
Senada dengan itu, Kepala MIN 2 Serang, Sanukri, menekankan bahwa sukses bukan cuma soal nilai, tapi juga tentang hubungan yang sehat antara anak dan orang tua.
“Ini bukan sekadar acara, tapi ikhtiar bersama. Saat anak dan orang tua saling memaafkan, di situlah dimulai energi positif untuk meraih kesuksesan. Karena sejatinya, ridho Allah itu bergantung pada ridho orang tua,” ujarnya.
Kegiatan PETUAH ini jadi bukti bahwa pendidikan bukan hanya tentang buku dan ujian, tapi juga tentang membangun hati, memperbaiki hubungan, dan menumbuhkan keyakinan diri.
Dengan bekal itu, diharapkan para siswa MIN 2 Serang bisa menghadapi ujian dengan lebih tenang, percaya diri, dan tentu saja—dengan doa orang tua yang mengiringi setiap langkah mereka.

Posting Komentar