Headline
Opini
Peristiwa
Hardiknas: Seremonial Tanpa Arah, Pendidikan Kita Sedang Kehilangan Jiwa
(Akademisi Unindra, Wakil Ketua Kwarcab Kota Serang, dan Wakil Ketua ICMI Kota Serang)
Setiap tanggal 2 Mei, bangsa ini kembali khidmat memperingati Hari Pendidikan Nasional. Upacara digelar, pidato dibacakan, dan slogan-slogan besar kembali digaungkan. Namun pertanyaan yang menggelitik: apakah pendidikan kita benar-benar bergerak maju, atau hanya berputar dalam lingkaran seremonial yang menenangkan, tetapi kosong arah?
Realitas di lapangan justru berbicara sebaliknya. Dalam satu tahun terakhir, dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada berbagai peristiwa yang mencemaskan—bahkan memalukan.
Kasus pertama, lonjakan kekerasan di lingkungan pendidikan. Data menunjukkan bahwa sepanjang 2025 terdapat ratusan kasus kekerasan di satuan pendidikan, dengan dominasi relasi guru terhadap siswa mencapai lebih dari 46%. Lebih ironis lagi, sekitar 90% korban adalah peserta didik—mereka yang seharusnya dilindungi. Ini bukan sekadar angka, tetapi alarm keras bahwa sekolah mulai kehilangan fungsi dasarnya sebagai ruang aman.
Kasus kedua, tragedi perundungan yang merenggut nyawa mahasiswa dalam peristiwa Udayana University bullying incident. Dunia kampus yang seharusnya menjadi ruang intelektual justru menjadi arena tekanan sosial yang berujung fatal. Ini menandakan kegagalan sistem dalam membangun budaya empati dan kemanusiaan.
Kasus ketiga, dugaan kekerasan terhadap anak di Little Aresha Daycare child abuse case, di mana puluhan anak menjadi korban perlakuan tidak manusiawi. Ketika lembaga pendidikan usia dini pun tidak lagi aman, kita sedang menghadapi krisis moral yang serius.
Belum lagi persoalan tata kelola pendidikan seperti skandal pengadaan laptop dalam Chromebook procurement scandal yang nilainya mencapai triliunan rupiah. Alih-alih memperkuat kualitas pendidikan, kebijakan justru terseret dalam pusaran dugaan korupsi dan keputusan yang tidak berpihak pada kebutuhan riil di lapangan.
Semua ini menunjukkan satu benang merah: pendidikan kita kehilangan arah. Ia sibuk pada output administratif, tetapi lalai pada esensi.
Padahal sejatinya, pendidikan Indonesia bukan hanya tentang melahirkan manusia cerdas secara kognitif. Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia—membangun keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Tanpa itu, kita hanya mencetak generasi pintar yang rapuh secara karakter.
Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, muncul wacana penghapusan jurusan kependidikan dari pemangku kebijakan. Sebuah ide yang justru semakin menjauhkan kita dari solusi. Jika pendidik tidak lagi dipersiapkan secara khusus, lalu siapa yang akan menjaga ruh pendidikan itu sendiri?
Hardiknas seharusnya menjadi momentum refleksi, bukan sekadar seremoni. Kita tidak kekurangan slogan, tetapi kekurangan keberanian untuk berbenah.
Ada tiga harapan yang harus kita jaga bersama:
Pertama, negara harus menghadirkan arah pendidikan yang jelas, konsisten, dan berjangka panjang—bukan kebijakan yang berubah-ubah tanpa fondasi filosofis yang kuat.
Kedua, penguatan karakter harus menjadi prioritas utama. Sekolah harus kembali menjadi ruang aman, ramah, dan manusiawi, bukan tempat yang justru melukai.
Ketiga, profesi guru harus dimuliakan dan dipersiapkan secara serius. Menghapus atau melemahkan pendidikan keguruan sama saja dengan mencabut akar dari pohon pendidikan itu sendiri.
Jika tidak, maka kita harus jujur mengakui: Hari Pendidikan Nasional hanya akan menjadi panggung formalitas tahunan—yang meriah di permukaan, tetapi hampa di kedalaman.
Dan saat itu terjadi, yang hilang bukan sekadar arah pendidikan, tetapi masa depan bangsa itu sendiri.
Via
Headline

Posting Komentar